Oleh: donyriyanto | Juli 5, 2010

Menyerah Untuk Menang

Setelah 3 tahun ‘terdiam’ dari dunia konektivitas internet, hari ini ingin saya jadikan titik balik saya untuk kembali menulis (dan mudah-mudahan seterusnya).

Motivasi kali ini sebenarnya menyambung tulisan di rubrik ‘Parodi’ harian Kompas hari Minggu yang lalu. Artikel tersebut bercerita tentang ‘menyerah’. ‘Menyerah’ – tidak pernah diajarkan orangtua kita terhadap kita. Beberapa orang yang ambisius bahkan ‘berusaha’ menghapus kata itu dari kamus hidupnya. Orang-orang juara yang pantang ‘menyerah’ umumnya bisa berjuang survive dari berbagai keadaan.  Kita sering kali dikuatkan oleh sahabat dan orang dekat kita agar jangan cepat ‘menyerah’. Namun artikel ini justru bercerita sebaliknya. Mungkin…sekali lagi mungkin… anda perlu berpikir untuk menyerah. Mungkin kita memang tidak pantas akan apa yang hendak kita capai. Mungkin kita terlalu sering mengabaikan tanda-tanda alam yang sebetulnya ingin mengatakan bahwa sebenarnya kita tidak pastas tujuan yang ingin kita sekarang. Mungkin Tuhan ingin berkata TIDAK, bukan BELUM. Kita-bagaimanapun seorang manusia-yang tidak bisa mengontrol masa depan-, apa yang akan terjadi dalam lima menit kedepanpun kita belum bisa pastikan, walaupun kita sudah prepare. Maka sangatlah wajar kalau suatu saat saya dan anda akan merasa, apa yang selama ini sudah kita lakukan,  ternyata diluar yang saya impikan, bahkan mungkin jauh. Menyerahlah. Setidaknya pikirkanlah, apa hikmahnya jika kita menyerah dari keputusan kita saat ini.

Menyerah tidak sama dengan kalah. Sama sekali bukan kalah. Menyerah juga berarti, berhenti mempertahankan keputusan yang sulit keadaannya, dan berusaha mengambil hikmah dibalik semua itu. Mungkin dengan demikian kita menjadi lebih berimbang dalam melihat alternatif keputusan lain. Mungkin kita menjadi lebih kreatif dalam menggali potensi di keputusan lain yang dulu kita pandang sebelah mata.

Menyerah tidak selalu berarti berhenti mendaki gunung impian kita, tetapi beristirahat sejenak dan berpikir lebih cerdik untuk untuk melihat jalur pendakian yang mungkin lebih baik, dengan tetap mempertahankan tujuan kita, mencapai puncak impian. Entah betul atau tidak, pernah ada teman yang mengatkan “bedanya orang yang bakal sukses atau tidak adalah dari pola kerjanya. Orang sukses mempunyai impian tetap dengan jalan yang mungkin berubah ubah. Sementara calon pecundang adalah orang yang selalu berganti impian namun jalan yang ditempuh selalu itu-itu lagi”. Sekali lagi entah benar atau tidak. Namun jika kita kaitkan dengan logika ‘menyerah’, saya rasa ada benarnya. Toh tiap orang sukses pernah terbentur masalah berat hingga ia menyerah dengan cara itu dan  kalap memilih jalur lain yang ternyata lebih baik? Berapa banyak orang terkaya dunia yang menyerah dijalur pendidikan formal namun justru karena itu menjadi lebih sukses dari yang lainnya dengan caranya sendiri yang unik?

Seperti segelas teh tubruk yang baru matang,  lalu anda mengambil sendok untuk mengeluarkan daun teh tersebut.  Semakin anda berusaha memisahkan ampas daun teh dari air,  semakin banyak ampas daun teh lain teraduk kemana-mana. Mungkin ada baiknya anda ‘menyerah’ dan membiarkan daun teh mengendap dengan sendirinya. Dengan demikian kita bisa dengan mudah melihat jernihnya teh yang sudah jadi dan terpisah dari endapan daun teh?

Sahabat yang berbeban berat dan bersusah hati, menyerahlah, dan biarkan sebentar masalah itu mengendap dan dengan demikian kita bisa melihat air jernih diatasnya. Menyerah untuk MENANG !!!


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.